
"Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan.
Jadilah padaku seperti yang Kau ingini."
(Sepenggal Syair Lagu 'Seperti yang Kau Ingini', composed by Jonathan Prawira - singer by Nikita)
Natal senantiasa membawa kenangan....
Jari-jari lentik Ibu Theresia sedang melagukan
Amazing Grace ketika Kania mengambil air suci
dan menyentuhkan ke dahi, hati, dan kedua belah
bahunya. 'Sangat Besar Anugerah-Mu' adalah
salah satu lagu kebangsaannya. Sambil mengisi
rongga dadanya penuh-penuh dengan udara
sejahtera, ia mengambil tempat duduk di bawah
jendela deretan bangku sebelah kiri.
Diletakkannya tas dan Bible-nya, lalu perlahan
berlutut.
Amazing Grace mencapai nada-nada akhir, Kania
memejamkan mata. Ia serasa dibuai angin surga
dan terbang ke negeri Antah Berantah.
Negeri Antah Berantah? Negeri dengan seribu
macam bunga dan sejuta warna kembang?
Dengan padang luas berwarna hijau dan bunga-
bunga kecil berwarna putih menyembul di antara
dedaunannya? Ah, Kania menghela napas diam-
diam. Sebenarnya, tidak patut mengeluh pada
saat-saat begini. Tapi, tanpa dikehendaki, tiba-tiba
saja, sebilah tombak dengan ujung sangat tajam
menghunjam ulu hatinya.
Perlahan sekali, dielusnya dadanya dan menunduk dengan mata terpejam pasrah. Semenit
kemudian, ia membuka matanya dan meraba 'Madah Bhakti' di pangkuannya, membuka halaman
doa selembar demi selembar sepenuh perasaan.
"Bapa di Surga yang Mahapengasih...," diejanya doa yang entah sudah berapa kali
didengungkannya sepenuh hati. "Dalam kebijaksanaan-Mu yang tak terselami, Engkau telah
menetapkan seorang pemuda menjadi jodohku. Ia akan mencari aku supaya menjadi teman
hidupnya. Ialah yang akan menjadi pelindungku serta ayah bagi anak-anakku.
Ya, Bapa, Engkau tahu tempat tinggal pemuda itu. Jagalah ia dalam rahmat-Mu, supaya ia selalu
hidup suci dan tahu mengendalikan diri.
Semoga ia selalu berlaku sopan, ramah dan satria. Jauhkanlah ia dari segala bahaya dan
teguhkanlah ia dalam kebaikan. Jagalah dan lindungilah aku juga, supaya ia menemukan aku
dalam keadaan yang pantas baginya. Garaplah 'ladang hati' kami, dan taburilah dengan benih-
benih sabda-Mu, supaya selama masa penantian ini hati kami disucikan dan kehendak kami
dikokohkan.
Ya, Bapa, kami berharap, kalau tiba saatnya nanti, kami berdua bersama-sama membangun
rumah tangga yang memancarkan kasih sayang kebapaan-Mu kepada semua orang di sekitar
kami. Amin."
Amin, Kania berbisik panjang lagi dan menegakkan kepalanya. Di tengah-tengah pilar di depan
altar, Bunda Maria dengan gaun biru langitnya tersenyum lembut. Kania merasakan betul, ada
angin damai bertiup mengembusi serambi jantungnya. Saat-saat begini, selalu, ia merasa yakin
Bapa Surgawi dan Bunda Terkasih itu mendengarkan dengung doanya dan pasti akan
mengabulkan pinta hatinya.
Dengan gerakan tanpa menarik perhatian orang di sekitarnya, Kania memalingkan wajahnya dan
memandang ke sebelah kanannya. Beberapa orang tampak berseliweran mencari tempat duduk.
Para ibu-ibu biasanya lebih senang duduk di barisan belakang. Kania tersenyum samar dan
secara refleks menoleh ke bangku belakang.
Setelah menoleh, kembali rasa nyeri itu menyerang jantungnya. Ia sudah tahu pasti. Daniel tidak
akan berada di antara jemaat di belakang sana. Tapi, entahlah, dalam ilusinya yang menembus
langit lapis tujuh, ia selalu berharap Daniel tiba-tiba muncul dengan mata coklatnya. Atau ilusi
yang lebih gila lagi, ia membayangkan Daniel akan berjalan dan duduk di sebelahnya, setelah
terlebih dahulu memamerkan senyum menawannya.
Uhhgg, Kania menunduk dan membatin sedih. Di manakah Daniel saat-saat ini? Sedang berbuat
apa cowok keren dan gagah itu sekarang? Adakah senar-senar di hatinya mendatangkan irama
yang sama dengan yang mengalun di hatinya? Oh, Kania
menggigit bibir bawahnya dan menunduk lebih dalam
lagi. Jika kasih dan kerinduan ini adalah karunia dari
Atas, adakah Dia menghadirkan kasih dan rindu yang
serupa di bilik hati lainnya?
Lonceng berdentang nyaring, Kania mencoba mengusir
bayangan yang menari-nari di pupil matanya dengan
memperbaiki duduknya. Hari ini kotbah akan dibawakan
oleh Pastor Simon Xaverius, yang selalu menarik serta
kocak. Kania tidak mau pulang dengan hati hampa
nantinya. Dicobanya berpikir dan meyakinkan diri,
bahwa Sang Gembala Baik itu mendengarkan seruan
domba-Nya.
***
Angin di penghujung musim kemarau bertiup kering.
Lina menaikkan rambutnya dan mengipas kuduknya
dengan majalah yang disambarnya dari atas meja.
Diliriknya Kania yang sedang mengembara ke negeri di
mana bidadari tinggal. Heh, Lina mengangkat bahunya.
Persoalannya sebenarnya mudah dan sepele sekali,
pikirnya gemas. Namun masalahnya, yang
mengalaminya adalah Kania. Dan, anak itu memilih
terbelenggu daripada melepaskan diri darinya.
"Yesus memang bilang, kalau kita meminta, kita akan
mendapat," Lina menepuk lengan Kania untuk membawanya kembali ke alam manusia.
"Tapi...."
"Tapi Ia juga bilang...." Lina cepat-cepat memotong sambil menatap sahabatnya setengah iba
setengah marah. "Ia juga bilang kita harus mencari dan mengetuk pintu. Begitu kan, Kania?"
Kania menatap dengan matanya yang bertelaga.
"Tuhan kan, maha segala maha, Lin," Kania membantah dengan suara patah. "Dia akan
mengabulkan apa saja yang kita doakan, bukan?"
"Yak!" Lina menegaskan. "Tapi di samping berdoa, kita dituntut untuk berusaha juga, kan? Ora
et labora. Lalu Ia akan menyertai usaha kita. Begitu logikanya yang sehat, kan?"
"Yaahh...." Kania mendesah dan menunduk. Disimpannya seulas senyum samar-samar di balik
bibirnya. "Saya tidak berani berusaha, Lin," katanya dengan suara setengah putus asa. "Saya
suka membayangkan, Daniel akan menolak saya. Atau menertawakan saya. Atau menceritakan
ke teman-teman bahwa ada seorang gadis yang tak tahu diri yang mati-matian mencintai dia.
Dan... ia tidak pernah mencintai gadis tolol itu."
"My, God!" Lina memekik dan mengelus dadanya. "Sintingkah ketua OSIS yang kau cintai
setengah mati setengah hidup itu? Atau otaknya sedikit miring? Atau ia abnormal, sehingga
menganggap jatuh cinta itu sesuatu yang aneh, yang perlu ditertawakan dan disebarkan seantero
jagat lewat Seputar Indonesia?"
Kania hampir tertawa mendengar kalimat-kalimat Lina yang bagai air bah itu. Ia mengatupkan
bibirnya, menyembunyikan kegelian hatinya. Sejenak kemudian ia berpikir, mungkin Lina benar.
Mungkin ia tertawa terbawa oleh perasaan takutnya sendiri.
Jika ia membungkus perasaan cintanya rapat-rapat dengan selimut ketidak-acuhan dan kebisuan,
bagaimana mungkin Daniel akan menemukan kunci menuju pintu hatinya? Berharap angin yang
bertiup berbisik ke telinga Daniel terlebih dahulu mendekatinya?
Ah, ia memang berharap, Daniel akan memulai mengambil langkah pertama. Rasanya ia sudah
capek menunggu keajaiban itu datang. Rasanya ia sudah lelah menerka-nerka, ada apa
sebenarnya di balik mata teduh berwarna coklat milik Daniel yang menghunjam ke sanubarinya
ketika mereka bertabrakan pandang. Apakah riak-riak pengharapan yang sama bersenandung di
keping hatinya?
"Hei! Sudah ke langit mana khayalmu singgah?"
Perlahan dengan enggan, Kania menoleh, dan memandang sepasang mata bulat di depannya
dengan pandangan tak bercahaya.
"Kalau kamu jadi saya, Lin, apa yang akan kamu perbuat?" tanyanya dengan suara lemah.
"Saya?!" Lina melotot dan menunjuk dadanya dengan gagah. Didongakkannya dagunya. "Tentu
saja saya akan melihat peluang-peluang saya, apa mungkin dia juga menyimpan feeling yang
sama dengan saya. Tidak ada hal yang mustahil, kan? Siapa tahu, Daniel juga diam-diam
mempunyai perasaan yang sama. Dan ia juga tipe pemuda yang introvert, sehingga menyimpan
perasaan itu rapat-rapat di hatinya."
"Aahh," Kania tertawa sumbang. "Hidup bukan dongeng, Lin. Hidup juga bukan cerpen-cerpen
manis seperti yang sering kita baca. Seorang cowok naksir seorang cewek, seorang gadis jatuh
cinta pada seorang pemuda, dan kemudian happy."
"Lho, siapa tahu, kan?" Lina melotot Lagi. "Seringkali yang membatasi kemungkinan-
kemungkinan besar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Kamu selalu mengatakan 'tidak
mungkin-tidak mungkin', sehingga kamu tidak melihat peluang-peluang lagi. Padahal, mungkin
selama ini Daniel juga mau mendekati kamu, tapi dia mengurungkan niatnya untuk mendekati
kamu, karena kamu selalu berubah diam dan gagu kala ada dia di sekitar kamu. Mungkin malah
ia berpikir kamu membencinya, atau tidak suka berteman dengannya. Iya, kan?"



0 komentar:
Posting Komentar