Ayo Buka Lantas Baca..
Alhamdulillah. Itulah kata pertama yang mesti saia
ucapkan atas RidhoNya. Terima kasih semuanya, buat ibuku,
guru-guruku, buat kamu-kamu yang menjadi inspirasiku.
Mengapa saia buat ini?! Hanya coba-coba ingin bisa nulis,
sekedar isenk doank ngutak-atik kata dan semoga saja ini
berguna buat semua, buat kamu dan aku juga.
E-book ini berisikan tulisanku, sekedar cerita biasa saja
dan kumpulan puisi yang berantakan.
Sebenarnya, sejenis cerita [tidak] pendek yang kubuat ini
berawal di pertengahan 2006, saat masih menggigit bangku
sekolah dulu. Cerita ini sempat terhenti dan tak kulanjutkan.
Namun seiring waktu berjalan dan terus berlalu kutinggalkan,
banyak hal yang kulihat, kudengar, kurasa, kupikir, kuucap,
kulakukan dan lain sebagainya, itu serasa menuntunku untuk
menyematkan kembali deretan kata yang terus kutata dalam
helaian karya di tiap detiknya. Hingga kini, penghujung 2009,
Rabiul Awal 1431 Hijriyah, Alhamdulillah akhirnya selesai juga.
Cerita ini terdiri dari tiga buah ide cerita [walau memang
kalo dilihat-lihat ada empat cerita] yang dijadikan satu. Inti
ceritanya ada pada tengah-tengah cerita, tentang salah satu
kunci kehidupan. Awal cerita tentang seorang pemuda sedang
bermimpi, yang setting-nya sendiri dalam alam mimpi. Mudah-
mudahan endingnya, kamu-kamu pada suka. [Cukup simple
kok. Buat lebih jelasnya mah, baca saja atuh lah.. :P]
Segitu dulu perkataan dariku. Selamat membaca, mudah-
mudahan bisa menjadi sebuah pencerah hati, penyejuk hati,
juga penghibur hati. Semoga ini menjadikan nilai ibadah bagi
yang membacanya, yang nulis, juga yang menyebarkan tulisan
biasa ini. Amieen.
salamku untukmu,
[yang nulis]
Sejenis Cerita [tidak] Pendek..
apa yaa?!
Suatu saat di ruang tamu ada dua orang anak manusia,
seorang lelaki dan wanita, yang satu berperan sebagai adik
dan satu lagi sebagai kakak.
Ketika itu kakak dari adiknya, sedang duduk di kursi
bertemankan laptop berlayar mini [alias Netbook]. Ia meminta
adiknya untuk mengambilkan sebuah buku.
“Dik, tolong ambilkan buku Apa Yaa!” ujar kakaknya itu.
Adiknya yang lagi menyender di dekat lemari buku pun
menjawab.
“Iya Kak, buku apa Kak?” seraya bertanya balik.
“Buku Apa Yaa!!”
“Buku apaa??”
“Apa Yaa!!”
“Yaa apa Kak, apa??!” sedikit geram.
“Apa Yaa!!”
“Jiah, apa judulnya Kak??”
“Buku yang judulnya itu ‘Apa Yaa?!’, ada nggak?”
“Yaaelahh... judulnya Apa Yaa, bentar Kak..”
Si Adik menghampiri kakaknya seraya berkata.
“Inih Kak bukunya. Judul buku kok Apa Yaa, anehh.. bikin
bingung aja ihh..”
“Kamu ini ada da ajah, makasih adikku..”
“Iyaa Kak..”
Ia lantas membukanya, menuju halaman pertama lalu
mulai membacanya.
-¤¤-¤¤-
Beginilah isi dari buku yang dibacanya..
Silakan baca saja, semoga berguna yaa..!!
1
-¤¤-¤¤-
Ini malam hari, malam yang sunyi terbalut sepi, awan
pun menghitam, hujan tak kunjung mereda. Pantas sajalah
semua orang tertidur pulas dengan mimpinya sendiri-sendiri
di atas kasur empuk dan pelukan selimut lembut. Tetapi tidak
untuk pemuda ini. Dia hanya terdiam, mata tak terpejam
walau kantuk sesekali menghampiri. Terdiam, melamun,
merenung, memikirkan dan mengharapkan, itulah yang ia
lakukan di malam sunyi.
Dengan tembok sebagai sandarannya, ia membisu
sejenak, lantas menulis di secarik kertas, “Cukupkah bertaubat
hanya dengan berucap istighfar, Astaghfirullah.. Sedang jiwa
raga tak kuasa terus melakukan dosa yang sama..?!”
“...”
Kemudian ucapan keluar.
“... Ku hanya ingin bertobat... Bertobaat...!!”
Ucapan itu memecah kesunyian kamar dimana yang
lainnya tertidur pulas.
“Ya Allah, apa yang mesti kuperbuat, diriku memang
kerap tersesat, banyak lakukan maksiat, juga sering
tinggalkan shalat, namun malangnya diriku tak pandai tuk
bertaubat. Ya Allah, kumemohon padaMu ampuni dosaku.
Engkau Maha Penerima Taubat,... terimalahtaubatku,”
lirihnya.
Air mata meluncur tak terasa menghujani sebuah buku.
Ia usap air mata yang membasahi pipi, juga yang menetesi
buku yang digenggamnya. Buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu menjadi saksi bisu suasana hatinya
saat itu.
“Mungkin buku ini akan cocok untukmu, anak cilik,” kata
hatinya sambil terus mengelus-elus cover buku yang berjudul
‘Belajar Mencintai Rasulullah’ yang dipegangnya itu.
2
“Gue, aku, saya, diriku.. haruslah berubah jadi orang
yang lebih baik, ku kan coba gunakan sisa hidup ini. Ku tak
ingin terus dibelenggu nafsu-nafsu tak menentu waktu.
Keponakanku tak boleh sepertiku, meniru kejelekanku, atau
siapa pun itu tak boleh seperti diriku.” Hatinya terus berkata
tanpa jeda dan berharap tanpa henti.
Tiba-tiba saja ia tuliskan sebuah kata ‘mimpi’, sambil
melihat teman-temannya yang sedang tertidur. Ia tuliskan
kembali sederet kalimat “Ketika kita dilahirkan dan kita pun
bermimpi, lalu terbangun dari mimpi itu. Apakah hidup kita kan
lebih baik dari mimpi?!” Kemudian ia goreskan sebuah garis
melengkung yang diakhirinya dengan sebuah titik tepat di
bawah garis itu, hingga membentuk sebuah tanda tanya
besar.
Walau ia tak ingin cepat-cepat tidur, namun rasanya
kantuk yang datang menghampiri tak tertahankan lagi. Jam
dinding kamar sudah menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Ia pun
terlelap tidur bersama harapannya dengan buku tetap
digenggam dipelukannya, buku yang hendak kan ia berikan
pada keponakannya itu. Dan mimpi pun hadir temani tidur
lelapnya, sama seperti manusia lainnya.
-¤¤-¤¤-
Mimpi apa dia ?? Taukah kamu?!
Kalau nggak tau, yuk kita masuki saja awan mimpinya.
Kalo ditulis kira-kira begini ceritanya ...
Let’s read..!!!
-¤¤-¤¤-
Tak.. tik.. tik.. tek.. tek tek tek tek tek tekkekeekkkk..
Bunyi tuts keyboard terdengar jelas dihentakkkan seorang
mahasiswa perguruan tinggi jakarta, di siang yang panas.
3
“Kok masih gak bener-bener sih?!,” katanya sambil
menggaruk-garuk kepala, memandangi PC rakitan yang sering
ia utak-atik sana sini.
Tak ada gelak tawa sang adik lagi di rumah itu, orang
tuanya di luar kota bersama si adik, jadi pantas sajalah bunyi
keyboard terdengar jelas memantul dari dinding ke dinding.
Sunyi sepi bagai tak berpenghuni, orang tua pergi tak
ada di rumah lagi [ngurusin bisnisss katanya]. Tapi untunglah
ada Mang Dadang dan Mpo Aminah yang dimintai tolong oleh
orang tuanya tuk tinggal menemaninya. Sejak sebulan yang
lalu.
“Mang kalo ada teman yang ke sini cari saya, bilangin aja
pergi ke warnet sebentar, tunggu aja suruh masuk,” pesannya
pada Mang Dadang yang sudah seperti keluarga.
“Iyaa.. nanti mang sampaikan. Tidak pakai motor
perginya?” kata Mang Dadang yang sedang membenahi
halaman.
“Nggak ah, deket kok.. Kalo gitu saya pergi dulu.
Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”
jawab si Mang.
Saking tergesa-gesanya, ia sampai lupa kencangkan tali
sepatu. Ia pun duduk berjongkok kembali.
“Kenapa Den Rama?” tanya Mang Dadang.
“Akh gak apa-apa,” jawabnya.
Tali sepatu telah terikat kencang temani langkah kakinya.
Dengan tas di pundaknya ia pun pergi ke warnet yang
lumayan tak sebegitu jauh dari rumahnya.
Ia berjalan dengan sedikit berlari [ingin cepat sampai
kayaknya]. Tanpa disadari, ia pun menubruk anak SD yang
baru pulang sekolah. Kaki anak itu membentur batu dan kerikil
tajam yang berserakan, lukalah kakinya.
“Duh.. maaf dek, ga apa-apa?? Wah berdarah.., ke
rumah sakit ya?” tanyanya dengan hati yang agak kaget
bercampur panik.
“Nggak apa-apa kok, kak. Cuman luka dikit,” ucap si adik.
4
“Siapa nama adik?”
“Aldy,” jawab siswa Sekolah Dasar itu singkat.
“Dik Aldy beneran gak mau ke rumah sakit? Kan berdarah
tuh.”
“Gak ahh. Kak bisa antar ke rumah saja..?” pinta si adik
yang enggan dibawa ke rumah sakit.
“Rumahnya di mana?” tanya Rama.
“Deket kok dari sini,” jawab salah seorang teman si adik.
Aldy terus saja meniup lukanya itu, yang mulai terasa
perih.
Ia urungkan niat buat ke warnet, ada sesuatu yang harus
ia lakukan sekarang, mengantar Aldy ke rumahnya. Tak lama,
ia pun nyampe juga di depan pintu rumah Aldy.
“Oh di sini rumahnya ya? Ini tu deket dari rumah kakak
dong,” ucap Rama sedikit menghiburnya.
Bel dibunyikan, tett.. teet.. teettt..
“Assalamu’alaikum.” Saat itu juga terbukalah pintu itu
dibukakan oleh seorang wanita yang heuuh.. cute abiz dah,
begitu indah dipandang. Sepertinya ia terpesona melihatnya.
“Kakak..” ucap si adik menyapa kakak perempuannya
yang satu-satunya.
“Mmm, ternyata itu kakaknya yaa..” gumam hati Rama.
“Ada apa yaa?!” tanya Aisycha, nama wanita itu.
“Oh.. ini adik ini tadi terjatuh karena saya. Maaf,” jawab
Rama.
“Bukan salah kakak juga kok, adik juga lari-lari nggak
liat-liat,” Aldy membela kak Rama, takut kakaknya marah.
“Kak masuk dulu,” ajak Aldy.
“Iya mari masuk dulu,” tambah Aisycha.
Dipersilakanlah duduk dan disuguhi munuman.
Sambil membersihkan luka kaki adiknya, Aisycha
memperkenalkan diri.
“Mm.. kenalkan, aku Aisycha, kakaknya Aldy.”
“Aku Rama,” jawabnya singkat, bingung mau ngomong
apa.
5
“... Kamu baru di sini yaa?”
“Iyaa, pindahan dari Bandung, baru kemarin lusa tinggal
di sini.”
“Ohh.. pantesan nggak pernah lihat kamu sebelumnya di
komplek ini,” ucap Rama mencoba tuk akrab.
Aisycha membersihkan luka adiknya sambil ngobrol sana-
sini dengan Rama.
“Nama lengkapnya apa?” tanya Aisycha.
“Hmm.. Zikr Ramadhan.”
“Enaknya dipanggil apa yaa?”
“Terserah kamu aja mau panggil apa.”
“Kalo dipanggil Zik, gimana?”
Ia, Rama teringat akan orang tua dan adik-adiknya yang
selalu memanggilnya Zik.
“Iyah.. gak apa-pa,” jawab Rama sambil tersenyum.
“Mmm.. ternyata ada satu lagi yang panggil aku dengan
Zik.” Rama kangen juga dengan nama panggilan itu.
“Kalo kamu?!” tanya Rama.
“Aku, Aisycha Citra Ramadhan. Nama belakangnya sama
tuh.”
“Lahirnya bulan Ramadhan juga?” tanya Rama.
“Ah nggak, itu dari nama ayahku, Muhammad Hijri
Ramadhan.”
“Ooo.. kirain..” Rama mengangguk-anggukkan kepalanya
tanda mengerti.
Tiba-tiba saja, “Kak.. Kakak.. Udah kak, udah bersih
lukanya,” kata Aldy.
“Ehh.. udah yaa.” Aisycha yang keasyikan ngobrol baru
menyadarinya.
“Sakit dek?” tanya Rama.
“Nggak dong kan aku jagoan,” jawab si adik yang
langsung pergi bermain game di komputer.
“Dia mah bandell,” celoteh Aisycha.
“Namanya juga anak-anak,” tambah Rama.
“Diminum airnya dong..!”
“Makasih..”
6

